Profile

Kiprah Sultan Bachtiar Najamuddin sebagai politisi semakin diperhitungkan setelah dia terpilih menjadi Wakil Gubernur Bengkulu beberapa waktu lalu.Satu – dua etape politik masih bisa dilakoni untuk menggapai posisi politik yang lebih tinggi. Entah itu untuk berkiprah di kancah lokal maupun nasional.

Bagaimana tidak, usianya relatif muda, baru 30-an tahun sudah makan asam garam dunia politik. Belum lagi sederet posisi di organisasisemakin menambah bobot pengalamannya.

Sultan mengawali karier politiknya menjadi anggota DPD RI Dapil Bengkulu termuda dan terbanyak mampu menjaring pemilih. Hampir 40 persen suara dia kuasai. Sebuah perolehan yang terbilang cukup fantastis mengingat pesaingnya adalah sederet nama-nama besar yang cukup disegani dan berpengalaman di Bengkulu.

Jauh sebelum memutuskan terjun ke dunia politik, alumnus Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Indonesia (UI) ini dipercaya sebagai ketua DPD KNPI Provinsi Bengkulu. Di tangan dia, kegiatan kepemudaan yang tadinya mati suri, hidup kembali. Beberapa acara besar pernah dihelatnya. Seperti acara Hari Aids sedunia. Dia juga dipercaya menjadi Ketua Parfi Bengkulu.

Kemampuannya mengakses elit nasional dan para selebritis mampu menyemarakkan bumi raflesia. Setiap dia mengadakan perhelatan akbar, selalu penuh dengan tamu. Bengkulu seakan semarak dengan kegiatan nasional.
Gebrakan di KNPI

Saat menjadi Ketua DPD KNPI Bengkulu, nama Sultan sempat menjadi pembicaraan di tingkat nasional. Waktu itu dia menjajal kemampuan dengan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum DPP KNPI tahun 2007. Tercatat, Sultan adalah kandidat ketua umum DPP KNPI termuda.

Pemilihan ketua umum DPP KNPI tahun itu menyisakan banyak masalah. Karena kuatnya kepentingan yang bermain, muncul dua kubu KNPI. Yaitu KNPI kubu Ancol, dimana Ahmad Doly Kurnia menjadi ketuanya dan kubu Bali dipimpin Aziz Syamsudin, sekarang Wakil Ketua Komisi III DPR RI.

Menariknya, Sultan diterima oleh kedua kubu tersebut. Baik kubu Doly maupun kubu Azis. Dia menjadi salah satu ketua di masing-masing kubu tersebut.

Waktu itu, pemilihan Ketua Umum KNPI menjadi ajang unjuk kekuatan uang. Sultan harus ‘kalah’ dengan situasi seperti itu. Gagal menjadi ‘presiden’ pemuda Indonesia tidak menyurutkan langkah Sultan untuk kembali berkiprah.
Masuk kampung, keluar kampung dilakoninya, sehingga dia terpilih menjadi anggota DPD RI Dapil Bengkulu dengan perolehan suara terbanyak. Di senayan, kembali Sultan mengguncang dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai Ketua DPD RI, sebuah jabatan penting di republik ini.

Waktu itu dia berhadapan dengan nama-nama besar, seperti AM Fatwa, La Ode Ida, Ahmad Farhan Hamid, Ginanjar Kartasasmita, Aksa Mahmud, Irman Gusman dan sederet nama besar lainnya yang jauh lebih senior dan lama malang melintang di dunia politik.

Banyak pihak dibuat tersentak dengan gebrakannya. Nama-nama besar tadi sempat dibuat kerepotan. Dalam pertarungan voting tertutup, Sultan hampir saja memenangkan perebutan sepuluh orang terpenting di Indonesia ini. Sebanyak 66 senator dari 132 senator Indonesia memberikan suara kepada senator muda ini. Tapi karena kalah pengalaman dan masih junior, lembaga ini akhirnya dipimpin oleh Irman Gusman, menggantikan politisi senior Ginanjar Kartasasmita.

Kehadiran anak muda ini memberikan warna tersendiri dii DPD RI. Sultan tercatat sebagai salah satu pimpinan alat kelengkapan di DPD RI. Dia menjadi Ketua Panitia Hubungan Antar Lembaga/ Hubungan Internasional. Posisi ini dimanfaatkan Sultan untuk membina hubungan internasional. Banyaknya kegiatan berskala regional dan internasional inilah yang membuat senator muda in memiliki banyak jaringan dan teman di banyak negara.

Meskipun kesibukannya sebagai senator teramat padat, tapi semangat untuk menyatukan dua kubu organisasi kepemudaan terbesar ini tidak pernah padam. Sultan kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum DPP KNPI. Waktu itu, Sultan sangat yakin bisa menyatukan perseteruan aktivis-aktivis muda Indonesia. Tapi pada konggres penyatuan tersebut, situasi semakin parah, komersialisasi dunia kepemudaan benar-benar mencapai titik nadirnya.

Lagi-lagi, Sultan pun harus kalah dengan kondisi seperti itu. Padahal kehadirannya waktu itu hanya ingin mengembalikan kithoh pemuda yang seharusnya penuh dengan loyalitas, komitmen dan perjuangan. Tidak bisa dipungkiri, darah pemimpin Sultan mengalir dari sang Sutan Yacob Bachtiar, tokoh sentral pendiri Provinsi Bengkulu.
Bisnis dulu Baru Politik

Pengalaman pahit masa lalu akan terasa manis untuk dikenang sekarang. Siapa yang menyangka perjalanan hidup Sultan menjadi orang nomor dua di Provinsi Bengkulu di usia yang relatif muda. Tidak banyak yang tahu perjalanan Sultan remaja bertahan melawan ganasnya medan Jakarta. Berbekal tekad yang kuat, dia hijrah ke ibukota. Satu tekadnya yaitu bekerja sambil kuliah.

Maka, awal tahun 1996 setamat SMA,sendirian dia merantau ke Jakarta menyusul sang kakak, Agusrin yang lebih dulu mengadu nasib, malang melintang di ibukota. Dia memang harus ke Jakarta jika ingin meneruskan kuliah, sebab ayahnya jauh hari sebelumnya sudah mengingatkan bahwa biaya sekolah yang mampu ditanggung keluarga sebatas SMA.

Anak bungsu dari pasangan (alm) Najamudin dan Nuraini ini masih berumur belasan tahun ketika berusaha hidup mandiri. Bermodalkan ongkos pemberian sang nenek, Sultan memberanikan diri membuka usaha servis AC kecil-kecilan. Mencari pelanggan dari pintu ke pintu dilakoninya. Pada 1997, dia mendirikan usaha penjualan AC bekas.

Jatuh bangun membangun usaha AC berbuah manis ketika krisis melanda. Kala itu dia kebanjiran AC bekas yang kemudian diperbaiki dan dijual kembali. Omsetnya mencapai ratusan juta rupiah. Sekian lama membangun usaha, pada tahun 1999 bersama kakaknya yang lebih dulu hijrah ke Jakarta, Sultan memberanikan diri membuka usaha baru.

Waktu itu yang dilirik adalah bisnis peralatan keamanan. Isu bom memacu pertumbuhan bisnis keamanannya.Hampir semua jenis peralatan security mulai dari detektor logam sampai persenjataan menjadi bisnis andalannya bersama sang kakak Agusrin.

Dalam waktu yang singkat bisnisnya pun merambah ke banyak bidang. Besarnya perkembangan akan industry pertambangan membuat permintaan bahan peledak(commercial explosive) sangat tinggi dan bisnis bahan peledak pun menjadi salah satu bisnis yang sangat serius dibesarkan.

Tercatat perusahaanya salah satu pemain paling besar dalam bisnis senjata dan bahan peledak. Bisnis lain yang juga digarap adalah pabrik pembuatan gas elpiji. Jauh sebelum pemerintah mengumunkan akan mengurangi penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar, Sultan terlebih dulu membidik usaha tersebut. Karena dia yakin pada suatu saat nanti, krisis energi akan mendorong pemerintah mengganti minyak sebagai bahan bakar dengan gas elpiji.

Sambil mengembangkan usaha intinya, Sultan mulai merambah bisnis peralatan medis. Bahkan ketika bisnis pertambangan mengalami booming, Sultan juga mulai menggarap berbagai konsesi tambang.

Tak luput bisnis mediapun diliriknya. Bisnisnya mulai menggurita setelah dia membuka usaha importir bahan peledak untuk kebutuhan industri, seperti tambang. Sebab bisnis ini hanya digeluti oleh segelintir orang saja, karena perizinannya yang super ketat.

Darah Pengusaha
Selain Persenjataan, bahan peledak, industry tabung gas, holding company membawahi beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang IT, mining sampai property. Praktis dengan kesuksean bisnisnya sultan muda menjadi anak muda mapan tapi tetap rendah hati.

Latar belakang sebagai pengusaha muda ditambah memiliki jaringan kewirausahaan yang luas membuat dia dipercaya menjadi Ketua HIPMI Provinsi Bengkulu. Lajang humoris ini sangat konsen terhadap pengembangan usaha skakla kecil dan menengah. Seperti pengembangan kopi di Bengkulu.

Darah pengusaha yang mengalir pada diri Sultan dituruni dari Wahab Affan, pengusaha nasional era tahun 1970 an. Wahap yang masih terhitung kakek Sultan merupakan pengusaha papan atas pada zamannya. Beberapa bisnis strategis pernah digeluti Wahap Affan seperti bisnis pelayaran dan industry otomotif dengan merek Datsun.

Seiring waktu, kerajaan bisnisnya semakin menggurita dan seiring itu pula perjalanan politik sultan mengikuti. Jika awalnya dia hanya terlibat dalam organisasi kepemudaan, maka tatkala ada peluang untuk masuk dalam dunia politik yang lebih menantang dan memberikan tanggung jawab besar, diapun meraihnya. Waktu itu usianya belum genap 30 tahun, tapi sudah menjadi anggota DPD RI. Dan tergolong anggota DPD RI termuda. Kini bisnis yang digeluti bertahun-tahun dikelola oleh kalangan profesional.

Pendidikan Juga Penting
Tanda-tanda bahwa Sultan bakal menjadi orang besar, sudah terlihat sejak dini. Sejak kecil, dia dikenal cerdas dan selalu berprestasi. Dari duduk di bangku Sekolah Dasar, dia selalu mendapat rangking pertama sampai memperoleh beasiswa. Pengagum ibu Fatmawati, pahlawan nasional dan ibu negara pertama ini terlihat ulet dan tekun sejak kecil.

Cita-cita lamanya meraih gelar sekolah tinggi sempat terbengkalai, karena asyik berbisnis. Ia baru lulus sarjana pada 2004 dari FISIP Universitas Indonesia (UI). Kini dia sudah merampungkan S2 nya dan segera mengikuti program doktoral.Satu kata yang sering diucapkan jika ditanya soal kemajuan yang diraih selama ini yaitu semua itu adalah kehendak Ilahi. Dan dia hanya sekadar menjalaninya. ***